02 10-18

Iba Dalam Nurani, Awal Didirikannya YPLB

avatar

Oleh   Marketing Team

Kategori   Kunjungan Program Kerja Kebutuhan

            Sebuah pemandangan yang mampu membuat kita terenyuh dalam sekejap. Seorang anak yang makan di tempat sampah, tanpa ada yang peduli untuk memperingati atau bahkan menegur untuk berhenti makan di situ. Ternyata dia adalah seorang anak berkebutuhan khusus, hingga ada rasa enggan bagi masyarakat, bahkan untuk menegur sekalipun. Bapak Sujono, seorang guru yang mampu bereaksi sebagaimana harusnya melihat fenomena tersebut. Iba dalam hati membuatnya memberanikan diri dan meneguhkan niat dalam hati untuk membantu sang anak berkebutuhan khusus tersebut.

            “Saya hampiri anak itu, saya bawa kerumah. Saya bersihkan, mandi, rapi, saya kasih makan. Sempat saya titipkan pesan ke warga sekitar, kalo ada yang mencari anak ini, hubungi saya. Saya kasih nomor saya ke warga. Selama saya urus, anak itu tidak ada yang mencari,” ujar Bapak Sujono saat ditemui tim Kapiler di YPLB.

            Atas kejadian tersebut, perlahan tapi pasti pada tahun 1988 beliau mulai menapaki jalan untuk mendirikan tempat bernaung bagi anak-anak berkebutuhan khusus atau anak disabilitas. Tidak tanggung-tanggung, rumahnya pun dijual untuk kebutuhan anak-anak. Bapak Sujono bersama anak-anak tinggal di rumah yang dikontraknya di Depok. Pinjam meminjam di bank pun dilakoni demi memenuhi semua kebutuhan anak-anak.

            “Sekitar tahun 1988, perlahan-lahan saya mendirikan panti asuhan ini, di tahun 1989. Dalam prosesnya, saya jual rumah saya yang di daerah Gandul, untuk kebutuhan anak-anak. Saya ngontrak di Depok 1. Tidak ada niatan untuk apa-apa, yang saya pikirkan hanya ingin membantu kemudian saya yang melayani, saya yang mendidik, seperti itu”. Tambah Pak Sujono

            Seiring berjalannya waktu, beliau bersama dengan RT dan RW untuk melegalkan atas perizinan dibukanya panti asuhan Yayasan Pendidikan Luar Biasa, yang diperuntukkan anak-anak disabilitas. Dari pihak Diknas dan Kemensos pun datang bersilaturahmi untuk melihat dan memberikan sebuah program yang sekiranya dapat dijalankan di YPLB.

            “Pihak RT dan RW setempat membantu membuka ijin yayasan, kemudian datang dari diknas, kemensos, terus berkembang makin lama makin besar. Begitu juga program yang ditawarkan dari Diknas dan Kemensos. Semua saya persilahkan dijalankan di sini, karena memang tidak ada yang pura-pura di sini, ada anaknya beneran, saya buat yayasan juga buat menolong anak-anak. Jadi silahkan jika ada program bantuan. Setiap bantuan juga kan kita ada pertanggungjawaban,” jelas Bapak Sujono.

            Segala daya dan upaya dilakukan siang malam oleh Pak Sujono. Dengan bantuan dari donatur dan istri yang selalu setia mendampingi setiap langkahnya. Keteguhan dalam hati dan keikhlasan dalam merawat anak-anak asuhnya, membuat jalan baginya selalu ada baik yang diketahui atau tanpa sepengetahuan beliau. Berbagai bantuan yang menurutnya adalah berkat dari kekuasaan Allah SWT, menjadi bantuan yang benar-benar menolong di waktu kritis. Seperti tetangga sekitar panti asuhan, yang bersedia menjual rumahnya untuk kebutuhan panti asuhan. Pada awalnya tidak ada komunikasi khusus antara Pak Sujono dengan pemilik rumah untuk melakukan pembelian rumah. Semua berjalan dengan misterius dan natural, karena kadang kesusahan dalam menjalani ini semua apabila dibarengi keikhlasan, niscaya tangan Tuhan akan ada di sana.

            Memiliki hubungan baik dengan beberapa pihak memungkinan Pak Sujono mendapat pinjaman yang cukup untuk membeli rumah yang dijadikan asrama dan tempat belajar bagi anak asuhnya. Tidak berhenti disititu, dana yang didapatpun tidak serta untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi dialokasikan untuk membeli sebuah lahan untuk usaha yang dapat menyokong panti asuhan dalam jangka panjang di masa depan.

            Lahan yang dibeli pemilik YPLB, Bapak Sujono digunakan sebagai kebun. Selain lahan kebun, sawah pun dibeli untuk digarap agar menjadi pemasok bahan pangan pokok bagi anak-anak. Jadi tidak perlu pusing lagi bagaimana bisa memnuhi kebutuhan pangan anak-anak di panti asuhan.

            Eksistensi panti asuhan milik Pak Sujono ini terdengar sampai ke berbagai daerah. Anak asuhnya kini sudah mencapai 148 anak, dengan catatan 113 anak tinggal asrama dan sisanya pulang pergi. Uniknya, dari ratusan anak yang diasuh dan dirawat di panti asuhan ini, ada anak yang datang dengan berbagai cara yang ajaib. Setelah seorang anak yang ditemui beliau ketika sepulang bekerja, tidak butuh waktu lama berdatangan anak-anak berkebutuhan khusus ke kediaman Bapak Sujono. Ada yang datang dengan cara ditinggal di depan pintu masuk rumah dilengkapi dengan secarik catatan dan berbagai cara lain yang dirasakan Pak Sujono.

            Namun semua diterima beliau dengan tangan terbuka, karena memang awal dibuatnya panti asuhan ini untuk membantu. Dan itu semua paradigma yang ditanamkan Pak Sujono kepada semua tenaga pengajar dan pengurus panti asuhan, agar setiap kegiatan yang dilakukan harus dilandasi niat membantu, selalu sabar, ikhlas, dan jalani sebaik mungkin. Karena semua pasti ada rejeki dan ada balasannya.

            Sedikit menyinggung soal Hari Tuna Rungu Internasional, Pak Sujono berpesan, agar negara harus hadir dalam arti memenuhi kebutuhan anak-anak ini, seperti sandang pangan papan, kesehatan, pekerjaan, hingga ke pemakaman. Karena tidak sedikit mereka tidak punya siapa-siapa di dunia ini.

            “Ketika ada anak-anak tuna rungu yang tidak punya siapa-siapa dan masih ada di dalam NKRI, berarti itu tanggung jawab negara. Negara pun harus hadir, dalam artian memenuhi kebutuhan kesehatan, pekerjaan,  sandang pangan papan, hingga ke pemakaman. Jangan hanya dibuat undang-undangnya saja, tapi coba dipraktikkan dan lihat langsung ke lapangan,” tambah pemilik Panti Asuhan YPLB, Pak Sujono.

            Satu lagi yang disayangkan adalah soal kebijakan penggunaan bahasa untuk anak-anak penyandang tuna rungu. Musyawarahkan dengan semua pihak yang terlibat, termasuk penyandang tuna rungu itu sendiri. Karena yang menjalani semua itu adalah mereka, sampai akhir hayat.

            “Jangan dibingungkan dengan perpecahan orang-orang yang membuat kebijakan. Dibingungkannya ada berbagai macam bahasa, jadi ada yang gunakan bahasa a, bahasa b. Boleh orang-orang bijak dan pintar membuat aturan, tapi harus satu suara, Jadi anak-anak tidak terpecah belah,” tutur Pak Sujono

            Semua usaha dan upaya yang dilakukan Pak Sujono, semata-mata ingin menjadikan anak asuhnya sebagai pribadi yang mandiri, mempunyai daya saing dan mampu diterima masyarakat. Karena mereka memang layak menerima itu semua.

            Jangan jadikan perbedaan yang ada sebagai penghalang bagi kita untuk terus berbagi, karena semua itu adalah pemberian Tuhan, tidak ada satu pun manusia yang ingin dilahirkan menjadi berbeda dengan yang lain. Namun semua adalah kehendaknya, agar kita semua bisa terus saling membantu satu sama lain. Bersama Kapiler Indonesia, mari jadikan sebuah perbedaan ini sebuah keindahan yang menakjubkan. Panti Go Digital!

 

Follow instagram kita di @kapiler_id dan untuk berbagi kita bisa kunjungi link ini http://kapilerindonesia.com/program_donasi

 

 

Febrimantara/Kapilerindonesia

Untuk memberikan komentar anda harus login terlebih dahulu

Komentar

Belum ada komentar :(