07 10-19

Cerita Peksos 01: Anak Muda Terlibat Pengelolaan Panti Asuhan, Mengapa Tidak?

avatar

Oleh   Marketing Team

Kategori   Kunjungan Acara

Sahabat Pili pernah main ke panti asuhan?

Seperti apa biasanya pengurus panti terlihat? Bapak-bapak atau ibu-ibu setengah baya?

Nah, kali ini Pili berkesempatan mengobrol dengan salah satu pengurus muda panti yaitu Aras Bayu Fuadi, atau yang biasa disapa kak Aras, dari Panti Asuhan Muhammadiyah Darul Ilmi. Kak Aras mengurus  kesekretariatan di panti dan tugas lainnya sebagai pekerja sosial. Sebagai anak muda yang berlatar pendidikan S1 Kesejahteraan Sosial, Kak Aras memiliki pengetahuan mendasar mengenai pengelolaan masalah sosial. Tapi, apakah yang bisa berkontribusi di panti asuhan hanya mereka yang berlatar belakang pendidikan sosial?

Menurutnya, kalau anak muda yang punya ilmu tidak mau berkontribusi, atau baru menemui hambatan sedikit sudah menyerah, maka pelayanan sosial di Indonesia tidak akan maju, jalan di tempat. Negara-negara lain yang dekat, misalnya Singapura, bisa maju dalam hal tersebut karena akademisi turun ke lahan prakteknya.  Akademisi ini bisa siapa saja. Siapapun bisa melakukan pendampingan anak-anak di panti asuhan sesuai dengan bidang ilmu masing-masing.

Ketika ditanya, apa yang membuat kakak terus semangat?

Jawaban kak Aras sederhana. Anak-anak. Ada satu kisah yang selalu kak Aras ceritakan setiap kali ada orang bertanya mengenai bagaimana mengelola panti. Momen yang menjadi penjaga semangat kak Aras. Yaitu saat pertama kali menginap di panti asuhan.

“Biasanya orang datang ke panti, acara 2-3 jam, selesai, kemudian pulang. Yang kita lihat hanya potret kecil dari kehidupan anak panti asuhan. Cobalah menginap di panti asuhan, semalam saja. Melihat anak-anak panti yang tidur malamnya  gelisah karena mimpi buruk; berantem dengan temannya; bermain jatuh dan luka, menangis memanggil ibu tapi ibunya tidak ada; benar-benar membuka mata saya terhadap realitas mereka.” 

Pengalaman ini membuat Kak Aras bertambah yakin bahwa anak-anak panti butuh penanganan secara profesional. Ketika kita berusaha menyenangkan anak-anak dan mereka senang, itu bikin semangat bangkit kembali, ujarnya. Konflik dengan pengurus, masalah keuangan panti yang kurang, dan lain-lain jadi tidak dipikirkan lagi.

Dengan semangat yang sama, Kapiler Indonesia menginisiasi program Panti Mandiri di empat panti asuhan, salah satunya di Darul Ilmi. Ada manajemen data panti asuhan secara digital, kelas belajar desain grafis yang berlangsung 3 kali dalam sepekan, serta program lainnya yang sedang berjalan. Prioritas dari panti asuhan Muhammadiyah Darul Ilmi, kata kak Aras, anak yang masih punya kerabat dikembalikan ke keluarganya, dan yang harus tinggal di asrama panti asuhan, semua belajar untuk menjadi individu yang mandiri di kemudian hari.    

 

Khonza Hanifa/Kapilerindonesia

Untuk memberikan komentar anda harus login terlebih dahulu

Komentar

Belum ada komentar :(