30 09-20

Cerita di Balik Jumat Bergizi

avatar

Oleh   Development

Kategori   Program Kerja

 “Gimana ya supaya kita bisa bagi-bagi makanan tanpa kehambat urusan transportasi?”

Pertanyaan itu mengemuka di rapat kerja bersama tim program pada suatu siang. Saat itu Kapiler sedang menjalankan program kerja sama dengan Yayasan Baitul Maal BRI untuk berbagi makanan ke anak panti asuhan. Target penerima manfaatnya 1 panti asuhan setiap pekan setiap hari Jumat, jadilah programnya disebut Jumat Berbagi.

Permasalahannya adalah karena keperluan dokumentasi, makanan harus diantarkan ke panti. Dengan kantor berlokasi di kota Depok, Kapiler hanya bisa menjangkau panti sekitar wilayah Jabodetabek. Kemudian tercetuslah ide: Bagaimana kalau makanannya tidak harus dipaketkan ke panti? Yang penting ada nasi, lauk, dan anak-anak bisa makan bareng, kan?

Setelah itu tim Kapiler berusaha meluaskan jangkauan dengan membuat kampanye berbagi makanan sendiri dengan sistem yang disederhanakan; pengurus panti diberikan dana untuk belanja makan, dengan ketentuan ada nasi, lauk nabati dan hewani, serta buah. Sistem ini membuat panti asuhan yang jauh dapat merasakan program Jumat Berbagi, kemudian disebut Jumat Bergizi karena semangatnya ingin membantu menyediakan makanan bergizi setiap hari Jumat.

Ketika pandemi Covid-19 menerpa Indonesia, sistem Jumat Bergizi ini menjadi salah satu yang memudahkan untuk berbagi dengan adik-adik panti asuhan. Di berbagai belahan dunia, perubahan dalam hal konsumsi terjadi, seperti sistem barter yang kembali marak dilakukan di Fiji sejak April 2020 dan menyebar ke Inggris. Dilansir dari BBC, perekonomian Fiji yang bergantung pada pariwisata mengalami pukulan keras karena pandemi, menyebabkan orang mencari cara alternatif untuk mendapatkan kebutuhan, salah satunya dengan barter. Bahan yang paling sering ditukar adalah bahan pangan dan makanan.  

Baca juga: Tren Mukbang, Perlu Banyak Ditimbang

Praktik di Fiji maupun organisasi barter di Inggris yang memiliki hingga 1300 anggota pada awal Agustus, meskipun barang yang ditukar berbeda-beda, memiliki persamaan semangat kebersamaan dan gotong royong dalam komunitas lokal.  Semangat itu pula yang menjadi landasan program-program Kapiler Indonesia untuk panti asuhan. Krisis kesehatan global yang mempengaruhi seluruh dunia, baik negara maju maupun berkembang, mengingatkan kita bahwa pada dasarnya, sebagai makhluk sosial, manusia hidup untuk bekerja demi kesejahteraan bersama. Semoga paruh akhir 2020 bisa bersama-sama kita lewati dengan semangat berbagi meski dalam keterbatasan, ya Sahabat!

Khonza Hanifa/Kapilerindonesia 

Untuk memberikan komentar anda harus login terlebih dahulu

Komentar

Belum ada komentar :(