21 10-20

Berbagi, Memperluas Makna Kesehatan Mental

avatar

Oleh   Marketing Team

Kategori   Acara

Awal bulan Oktober menjadi bulan yang penuh kutipan motivasi di media sosial. Apa sebabnya? Salah satunya karena di tanggal 10 diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Isu kesehatan mental kini makin sering pula dibahas di Indonesia. Mulai dari profesi psikolog, sampai influencer yang peduli dengan kesehatan mental.

Sepanjang tahun 2020, isu kesehatan mental menjadi lebih kompleks karena tahun ini menandakan perubahan mendadak bagi orang di seluruh dunia akibat pandemi. Pergerakan kita terbatas, pergi ke tempat wisata dan taman hiburan bukan lagi tujuan utama menghabiskan waktu libur. Meski sudah menjaga jarak, bepergian tetap membawa rasa was-was di hati. 

“Tetap menjaga protokol kesehatan, ya!”

Menjadi pesan yang sering terdengar sebelum seseorang pergi beraktivitas keluar rumah. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak juga terpengaruh. Mereka kini jarang bertemu teman-temannya karena sekolah dari rumah. Orangtua kesulitan menjaga anak-anaknya bukan hanya agar konsentrasi ketika belajar daring, tapi juga agar tidak banyak bermain keluar rumah. Sama halnya pengurus panti asuhan, mereka harus mengawasi anak asuh panti agar tetap aman dan sehat. Bermain yang biasanya merupakan persoalan sederhana jadi urusan rumit.

Lika-liku Self-care di Era Media Sosial

Keterbatasan yang mempengaruhi mental tersebut membuat marak bermunculan tips-tips self-care. Self-care atau merawat diri bisa dilakukan dengan banyak cara. Sayangnya, banyak orang kemudian mengartikan self-care sebagai keharusan membeli ini itu sebagai bentuk apresiasi diri. Seperti halnya jargon “you deserve it!” atau “kamu layak mendapatkannya!” yang sempat populer di media Barat pada tahun 2000-an, meski kini  kemasannya berbeda. Self-care berubah menjadi sekedar ajakan untuk memanjakan diri dengan alasan menjaga kesehatan mental.

Menurut blogger Lynnae McCoy, seperti semua strategi iklan, ada sebagian kebenaran dari pernyataan “you deserve it”. Apresiasi untuk kerja keras kita. Pergi liburan, membeli barang-barang bagus, makan makanan enak dari restoran mahal. Di sisi lain, McCoy berargumen, apresiasi bukan apresiasi sebenarnya jika hal tersebut menghalangi kita dari mencapai tujuan jangka panjang. Mereka menjadi beban. Ditambah semakin banyak pilihan finansial modern: kartu kredit, cicilan, dan sebagainya; membuat kita merasa mempunyai uang untuk dibelanjakan, meskipun secara teknis sebenarnya tidak ada. 

Self-care tidak melulu berupa koleksi minyak esensial, lilin aromaterapi, konsumsi dessert box, dan serba serbi kekinian lainnya. Sesederhana tidur malam lebih awal malam tanpa scrolling timeline (dan berpikir mengapa hidup orang lain selalu kelihatan lebih baik) sebelum tidur adalah upaya merawat diri. Memutuskan tidak melakukan sesuatu; tidak ikut bergosip, tidak mencari-cari kesalahan kecil orang untuk dibesar-besarkan, misalnya, juga adalah bentuk merawat diri.

Belajar Tidak Peduli, Menyederhanakan yang (Terlihat) Rumit

Hanya karena sekarang sebagian dari kita punya lebih banyak waktu di rumah, bukan berarti waktu tersebut harus dihabiskan sia-sia, bukan? Kemana pun kita melihat, ketika kita mencari-cari di timeline misalnya, akan selalu ada seseorang asing melakukan sesuatu yang konyol di internet. Ada kalanya, kita perlu membiarkan saja agar tidak menghabiskan energi.  

Belajarlah untuk tidak usah memusingkan hal yang tidak penting. Melihat gosip rumah tangga orang di Twitter atau mobil baru selebriti. Mungkin itulah saatnya kita berpikir:, “Apa urusannya sama hidup saya?” Ketika kita bisa memilih dimana kepedulian ditempatkan, energi yang ada bisa kita gunakan untuk hal lain.

Sisi Lain Mencintai dan Merawat Diri 

Selain itu, kesehatan mental bukan semata berfokus pada diri individu seperti konsep self-care di atas. Mengutip Regis Machdy dalam buku Loving the Wounded Soul, cinta kasih bukan tentang diri sendiri. Jika latihan cinta kasih hanya tentang menyayangi diri sendiri, itu namanya latihan narsis.

Apakah pakai masker saat tim Kapiler menyalurkan bantuan ke panti asuhan, misalnya, tidak membuat lelah dan lebih sulit bernapas ketika cuaca panas? Tentu saja lebih nyaman jika maskernya dilepas. Tapi seperti yang Sahabat sering lihat di iklan layanan masyarakat, masa sulit pandemi ini jadi momen untuk kita belajar bersabar dan lebih mementingkan kesejahteraan bersama dibandingkan kenyamanan pribadi. 

Baca juga: Cerita Peksos: Anak Muda Terlibat Pengelolaan Panti Asuhan, Mengapa Tidak?

Kata penulis Alison Gopnik, kasih sayang bukan hanya menggerakkan perbuatan kita, tapi perbuatan kita lah yang menumbuhkan rasa sayang bagi diri sendiri dan juga orang lain. Contohnya, seorang ibu yang selalu memasak bekal makan siang anaknya akan merasa kurang jika tiba-tiba si anak tidak lagi mau pergi sekolah bawa bekal. Atau seorang kakak relawan yang setelah sekali pergi mengajar les bahasa Inggris di panti asuhan jadi ingin terus berkegiatan ke panti.

Dengan kata lain, bisa jadi berkegiatan sosial, berdonasi, memberi edukasi ke anak panti asuhan, berkunjung ke panti, merayakan ulang tahun bersama adik panti (main langsung ke tempatnya nanti setelah kondisi pandemi reda tapi ya), atau kelompok kurang mampu lainnya itulah yang menumbuhkan –dan menguatkan- kepedulian kita.  Hal ini kemudian dapat turut andil menjaga kesehatan mental kita.

Seperti pengurus panti YPLB yang merawat anak-anak dengan keterbatasan mental. Anak berkebutuhan khusus membutuhkan perawatan yang khusus pula. Kisah anak yang diberi nama Umar, balita yang dibawa ke panti setelah ditemukan warga terikat ke tiang lampu merah di jalan raya Margonda, Depok, setahun lalu menjadi contohnya. 

Bukan hanya perlu penanganan ekstra dari hal sederhana seperti membiasakan anak dengan rutinitas panti, tapi juga dalam hal makanan dan penyembuhan trauma. Dengan usaha pengurus panti, kini Umar bisa tumbuh ceria dan mulai berkomunikasi dengan baik. Salah satu adik panti asuhan, Koko, kelas 3 SD, bahkan bisa menjadi kakak bagi Umar, membantu memandikan dan mengganti pakaian. 

Koko saja bisa memberikan cinta untuk sesama dalam keterbatasannya, bagaimana dengan kita?

Khonza Hanifa/Kapilerindonesia

Untuk memberikan komentar anda harus login terlebih dahulu

Komentar

Belum ada komentar :(